Jumat, 19 Maret 2010

Di Sebuah Lorong Buntu Aku Berdiri


Dunia adalah sebuah kumpulan masalah, siapa yang berhasil memenangkan pertarungan dengan jutaan calon janin dalam perut sang ibunda, maka ia berhak melanjutkan peperangan-peperangan berikutnya dengan berbagai masalah tersebut. Dan saat ini, aku sedang memandangi sebuah ilustrasi kehidupan yang serba samar. Tak kusangka itu semua jadi begini. Perjalanan yang harus kujalani dengan semangat keikhlasan, nyaris terpenggal oleh sebuah cobaan yang tak sepele. Di lorong gelap dan buntu itu aku merenungi perjalanan yang cukup lama, aku berjalan menyusuri lorong gelap, becek dan penuh serangga menjijikkan itu dengan terseok-seok, sambil mengumpulkan perak, mutiara, koin atau apa saja yang berguna untuk menebus tiket gerbang pintu berikutnya. Nyatanya jalan itu buntu, seseorang dengan sadisnya telah meruntuhkan bukit kejahatan dalam jalan sempit ini. Aku memandangi anggota-anggota rombongan, mereka semua berwajah sendu. Kami memang tak punya helikopter untuk memastikan bahwa jalan ini adalah jalan yang lapang menuju tempat tujuan. Kami hanya punya peta kejujuran dan kepercayaan agar kami sampai pada tujuan kami. Tapi semua telah terjadi apa boleh buat. Kami juga tak punya kendaraan berat bahkan sekedar sekop untuk membuat gua. dan itu pasti terlalu lama. Kami harus kembali ke perempatan semula untuk menempuh jalan lain yang lebih panjang. Aku (kami) percaya bahwa Allah menyertai orang-orang yang tabah dan sabar.

A corridor in Sukaye I Stand
The world is a collection of problems, who has won a battle with millions of potential fetus in the mother's stomach, then he was entitled to continue the next battles with these problems. And now, I'm looking at an illustration of the life of the all vague. I did not expect it all to this. The journey should I lead with a spirit of sincerity, almost severed by a trial that was trivial. In a dark alley and dead ends that I contemplate the long journey, I walked down the hallway was dark, muddy and filled with hideous insects shuffle, while collecting silver, pearls, coins or anything that allows you to redeem the ticket gate next door. In fact it was a dead end street, someone with sadisnya crime has broken down the hill in this narrow road. I looked at the group members, they are all looking wistfully. We did not have a helicopter to ensure that this road is the path toward the destination field. We only have a map of honesty and trust so that we arrive at our destination. But everything has happened so be it. We also have no heavy vehicles even more than a shovel to make a cave. and it would be too long. We must return to the original intersection to another path longer. I (we) believe that God is with those who brave and patient.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar