Minggu, 26 Februari 2017

Yakin Ikut Nabi Musa

*```Andai saja saat itu Anda hidup di zaman Firaun, kira-kira Anda ikut Firaun atau Musa?```*

Yakin ikut Nabi Musa?!?

Yang punya Kartu Mesir Sehat itu Firaun, bukan Musa.
Yang punya Kartu Mesir Pintar itu Firaun, bukan Musa.
Yang membangun piramida-piramida adihulung itu Firaun, bukan Musa.

Copas
Yang membangun kekuatan militer Mesir menjadi kekuatan tak tertandingi itu Firaun, bukan Musa.
Yang memegang kunci kekayaan Mesir itu Firaun, bukan Musa.

Masih yakin Anda pilih Musa?

Musa tidak punya apa-apa. Pekerjaannya hanya penggembala kambing, dan senjatanya hanya tongkat. Lebih parah lagi, Musa ngajak lari dari Mesir tanpa bala tentara dan senjata. Musa juga ngajak nyebrang laut tidak pakai perahu. Masih yakin, kalau Anda hidup saat itu, ikut Nabi Musa?

Tidak yakin saya....Baru diuji dengan Ahok aja udah kalah, gimana kalau diuji dengan Firaun?!

Sabtu, 25 Februari 2017

Garis Pendek

Seorang Guru membuat garis sepanjang 10 cm di atas papan tulis, lalu berkata : "Anak2, coba perpendek garis ini!"

Anak pertama maju kedepan, ia menghapus 2 cm dr garis itu, skrg menjadi 8 cm. Pak Guru mempersilakan anak ke 2. Iapun melakukan hal yg sama, 'sekarang' garisnya tinggal 6 cm. Anak ke 3 & ke 4 pun maju kedepan, skrg garis itu tinggal 2 cm.

Terakhir, anak yg Bijak maju kedepan, ia membuat garis yg lbh panjang, sejajar dgn garis pertama, yg tinggal 2 cm itu.

Sang Guru menepuk bahunya,
*"Kau memang bijak. Utk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya - cukup membuat garis yg lbh panjang. Garis pertama akan menjadi lbh pendek dgn sendirinya."*

*Utk memenangkan Tak perlu mengecilkan yg lain, Tak usah menjelekan yg lain, krn secara tak langsung, membicarakan kejelekan yg lain adalah  cara tak jujur utk memuji diri sendiri. Cukup lakukan kebaikan terbaik yg dpt kita lakukan utk smuanya, biarkan wkt akan membuktikan kebaikan tsb.*
                                                        
#belajarbijak#

Minggu, 05 Februari 2017

Imam Nawawi Al Bantani

Gelarnya Al-Imam Al-'Ulama Al-Haromain atau imamnya para ulama dua kota suci (Makkah dan Madinah), terkhusus lagi merujuk pada dua masjid suci, yakni Masjidil Harom di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Imam Masjidil Harom di masanya ini sangat disegani oleh para ulama zaman itu disebabkan ketinggian ilmunya dan keluasan wawasannya. Sedemikian besar pengaruh dan kepakarannya sehingga julukan Al-Sayyid Al-'Ulama Al-Hijaz (Pemimpin Para Ulama Hijaz) juga melekat pada dirinya. Dia mufassir yang sangat terkenal dengan kitabnya bertajuk Muroh Labid li Kasyafi Ma’na Qur΄an Majid, tetapi lebih populer dengan sebutan Tafsir Munir, kitab tafsir Al-Qur'an yang biasa dipelajari santri NU setelah belajar Tafsir Jalalain. Dialah Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani.

Sepanjang hidupnya, Syaikh Nawawi Al-Bantani telah menulis 115 judul kitab, di antaranya hingga kini banyak dipakai di berbagai pondok pesantren NU. Tetapi beliau sendiri merupakan sosok yang dihormati oleh berbagai kalangan. Bukan hanya di lingkungan nahdliyin yang ketika itu memang belum berdiri. Di antara murid-muridnya, tercatat nama Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang merupakan pendiri NU dan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Tentu saja banyak tokoh lain di luar kedua nama besar tersebut, semisal KH. Mas Abdurrohman, pendiri Mathla'ul Anwar.

Tak heran jika keturunannya pun dikenal keluasan ilmunya. Salah satu cicitnya kelak menjadi Rois Aam PBNU, posisi tertinggi di jam'iyah Nahdlatul 'Ulama. Dialah KH. Ma'ruf Amin, seorang kyai alumni pondok pesantren Tebuireng, Jombang. Dan sepanjang sejarah, posisi Rois Aam memang selalu berada di tangan ulama yang memiliki garis nasab (keturunan) sangat kuat dan tentu saja harus memiliki kematangan ilmu yang mendalam.

Rois Aam merupakan kedudukan yang sangat dihormati, dimuliakan.

Mereka yang pernah mereguk pengalaman belajar di masjid, musholla dan pesantren NU pasti akan merasakan betapa kita harus sungguh-sungguh memuliakan menghormati para ulama, terlebih dari garis nasab orang yang sangat tinggi kemuliaannya. Berbeda pendapat sekeras apa pun, tidak boleh menyurutkan penghormatan dan sikap memuliakan guru. Bahkan yang menarik, perbedaan pendapat yang dilandasi ilmu dan adab justru semakin mendekatkan mengakrabkan. KH. Ma'shum Aly, murid KH. Hasyim Asy'ari yang sangat sering berbeda pendapat, justru diambil sebagai menantu. Sampai akhir hayat, keduanya sering berbeda pendapat. Dan tetap sangat menjaga adab.

Maka, tak heran jika seketika banyak yang sangat terluka hatinya begitu mendapati ada manusia yang buruk adabnya merendahkan menghinakan ulama panutan, pemimpin tertinggi NU sekaligus dzuriyah ulama besar pula. Mereka yang selama ini tak lagi berkecimpung di struktur NU pun seketika menggelegak terluka yang sangat dalam. Tak terkecuali seorang Prof. Dr. Mahfud MD yang biasanya senantiasa tenang pun tersinggung berat.

Pernahkah kalian merasakan cinta kepada guru, kepada ulama? Jika yang engkau cintai dihinakan, luka itu sulit sembuhnya.

Bagaimana bisa rasa itu sedemikian kuat? Serupa anak kepada ibunya. Mereka bisa tenang ketika dirinya disudutkan direndahkan. Tetapi rasa sakit itu tak tertahankan ketika ibunya dihardik diremehkan.

Credit: ust. Mohammad Fauzil Adhim