Seorang saudagar bernama Haradatta mempunyai anak bernamaMadanasena. Anaknya itu tidak mau bekerja, hanya selalu berkasih-
kasihan dengan isterinya bernama Prabawati. Maka anaknya itu
diserahkannya kepada seorang brahmana. Brahmana itu menerimanya,
kemudian diserahkannya sepasang burung Bayan (sebenarnya itu
gandarwa yang terkutuk oleh dewa karena berdosa). Burung Bayan itu
kemudian diserahkan kepada Madanasena.
Setiap Madanasena datang, burung itu menasehatinya dengan
berceritera. Oleh karena itu, Madanasena insyaf akan kewajibannya
dan ia akan pergi berniaga. Berangkatlah Madanasena berniaga,
isterinya diserahkan kepada burung Bayan itu.
Prabawati merasa kesepian. Beberapa kawannya membujuk agar
Prabawati pergi mencari hiburan. Prabawati mencoba akan melakukan
anjuran kawannya itu. Berhiaslah ia cantik-cantik. Burung Bayan betina
mencoba mematahkan niat Prabawati itu, tetapi sia-sia saja. Prabawati
marah, burung Bayan betina akan dibunuhnya, tetapi dapat melarikan
diri.
Bayan jantan mencoba mengurungkan niat Prabawati yang jahat
itu. la minta agar Prabawati sabar dahulu dan mendengarkan ceriteranya
dahulu. Prabawati tertarik akan ceriteranya itu sehingga lupa akan
perbuatannya yang jahat tadi. Demikianlah selalu diperbuatnya oleh
burung Bayan, sampai suami Prabawati pulang dari berniaga.Sumber: Subalidinata, 1978